Postingan

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN EMPAT

Akhirnya aku sadar akan perasaan ini, akhirnya aku mengalaminya. Ternyata  sang Durjana  pun akhirnya menetapkan pikiran. Selama ini aku ragu akan menghadapi hari ini. Padahal tak pernah sekalipun kuragu terhadap apapun kecuali tentang hal ini. Luasnya samudera tak pernah membuka mataku, jauhnya jarak kulalui tak pernah membuatku tersadarkan akan sesuatu hal yang penting ini. Akhirnya aku paham perasaan ayahku, pada saat pertama kali bertemu dengan ibuku. Tiada beda perasaan seorang petani dengan seorang lanun. Menghadapi hari ini terasa gemetar, antusias dan gugup beraduk dalam perasaan anak manusia. Cerita selengkapnya

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TIGA

Bandar Aceh Darussalam, Oktober 1872.  Aku bermain-main dengan pikiranku. Inikah yang disebut rumah? Jika engkau sudah mengembara melintasi Malaka, Batavia, Jepun, Liverpool, Venezia bahkan Istanbul selama dua puluh tahun pelayaran. Disusun dari kayu rumbia beratap daun kelapa, masih sama seperti dahulu hanya semakin rapuh. Tidak ini bukan rumah! Ini dinamakan surga, yang menjadi mimpi jiwa yang dahaga untuk berpulang. Tempatku dilahirkan dan dibesarkan. Daun pintu terbuka mengangga. Siapakah didalam, Masihkah ibu hidup? Aku masuk melintasi waktu seolah hanya pulang setelah bermain sebentar. Diatas anyaman nipah, sesosok tergolek dengan mata terbuka. Ibu? Ibuku masih hidup. Ia terbangun. “Siapa itu?” Matanya sudah biru, termakan oleh usia mencari-cari sumber suara. Beliau buta. Air mataku menetes, tak mampuku menahan isak dan pecahlah ia dalam rasa yang tak kutahu entah bahagia atau sedih. “Ibu! Ibu!” rintihku pelan seraya menjatuhkan diri dikakinya. Cerita selengkapnya

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA

Ulee Lheu. Oktober 1872 , Pantai ini sudah terkena pendangkalan parah. Bintang hitam tak bisa merapat, sebuah sekoci merangkak pelan ke Pantai Cermin. Sang Durjana pulang dari petualangan. Jantungku berdetak kencang, rasa rindu semakin berarti jika sudah di dekat rumah. Akhirnya kumenjejakkan kaki didaratan. Dua puluh tahun, tidak ada perubahan. Beginikah nasib Aceh Darussalam, jalan setapaknya masih sama. Orang-orang lama semakin tua, dan orang-orang baru tak lebih baik. Untuk apa kepulanganku ini? Kadang-kadang kebertanya pada diriku sendiri sehingga benar-benar meyakini bahwa kepulanganku adalah untuk membela bangsaku sendiri. Melayu Sumatera telah takluk baru-baru ini ditangan Belanda, dan diberi nama Keresidenan Riau. Deli sudah lama jatuh. Tiku, Barus dan Pariaman sudah lama hilang dipeta Aceh Darussalam. Diakhir abad XIX diseantero Nusantara hanya Aceh Darussalam dan Tanah Batak yang masih merdeka. Dan kedaulatan keduanya terancam oleh  Traktat Sumatera  sebuah per...

RISALAH SANG DURJANA

Sepuluh tahun sudah kaki ini tak menjejak daratan. Buih-buih lautan telah menawanku sejauh ini bukan karena keterpaksaan namun lebih pada rasa enggan. Racun yang menyelusup ditubuhku mengelanjut manja membunuh segala hasrat untuk berlabuh. Bukannya aku tak rindu dengan lembutnya dataran menghampar, tapi mereka pernah menolakku dengan sengaja. Dalam pelayaranku dua pelabuhan telah menarikku berlabuh. Negeri pertama, tak jauh-jauh dari kampungku. Sebuah pelabuhan digugusan tropis tepat di pusat administrasi Hindia Belanda yang mereka namakan Batavia. Namun syahbandar congkak mengusirku, ia berkata dermaga itu bukan untukku. Kapal dagang Maskapai Belanda telah memborong tempat tersisa dan memaksaku berlayar ke Timur. Sekian tahun berlalu, lima tahun kemudian tepatnya hingga aku tergoda oleh lampu-lampu kota di negeri bersalju. Setelah menembus terusan Panama dan tiba di negeri yang berjuluk Skandinavia. Syahbandar yang telah mengundang Bahtera Bintang Kejora yang kunahkodai berbalik den...

TUHAN IZINKAN HAMBA TIDAK JATUH CINTA

Tuhan, seandainya Engkau memberikan izin kepada hamba-Mu ini. Perkenankan hamba tidak merasakan jatuh cinta. Hamba melihat para pencinta besar dizamannya adalah orang yang merana hati dan jiwanya, namun cinta adalah salah satu ciptaan-Mu paling indah yang menjalankan dunia dan tak kuasa satupun makhluk-Mu mampu menolaknya. Wahai diri ini yang mengaku sederhana, bagaimana bisa engkau terpana pada pupur bedak setebal salju dipengunungan Alpen serta bibir semerah apel Australia dibalut gintu dari negeri sang naga. Wahai hamba bertekad teguh akan janji, mengapa engkau mengingkari perkataanmu sendiri untuk menjaga pandangan hingga harinya tiba. Padahal kemarin diri ini masih berkata “untuk saat ini mereka adalah penghalang cita-cita dan penjegal mimpi” Padahal kemarin diri ini dengan bangga berucap “hati maka jadilah batu hingga mimpi kita terlaksana". Tapi hari ini mengapa otak dan hati tidak sejalan, mengapa salju antartika berbaur dengan uap sahara. sungguh tak mampu raga ini ...